Wisata Bencana, Menyaksikan Derita Sesama

Posted on
  • Monday, November 8, 2010
  • by
  • joe
  • in
  • Labels:
  • Kita terbiasa menikmati penderitaan orang lain, entah disadari atau tidak. Jika ada teman yang terpeleset karena menginjak kulit pisang, atau yang jatuh lalu tertimpa tangga, hal yang pertama kita lakukan adalah mentertawakannya. Sebelum kemudian memutuskan apakah perlu ditolong atau tidak.

    Juga setiap kali musibah terjadi, entah itu hanya sekedar musibah kecil atau besar seperti baru-baru ini tsunami di Mentawai atau letusan Gunung Merapi, sudah pasti segera menyita perhatian masyarakat seluruh negeri. Sebagian kelompok datang karena dilandasi niat yang mulia, ingin membantu baik itu menjadi sukarelawan, menyalurkan bantuan, atau menghibur pengungsi bagi beberapa selebriti, tapi ada juga yang berniat lain, menonton bencana alam.

    Dan seperti biasanya setiap kejadian besar selalu menyita perhatian dan rasa ingin tahu masyarakat. Didorong oleh rasa penasaran itulah yang rupanya menarik masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan lokasi bencana, seolah-olah sedang menyaksikan suatu hiburan yang sungguh menarik. Dan rupanya hal itu tidak berlaku hanya pada musibah letuan Gunung Merapi saja karena di setiap peristiwa besar tidak luput dari serbuan ‘wisatawan lokal’ yang ingin menyaksikannya. Begitu juga yang terjadi pada saat musibah tsunami besar di Aceh, gempa di Yogya dan Klaten atau pun tragedi lumpur Lapindo beberapa tahun silam, atau pada peristiwa-peristiwa kecil misalnya tabrakan atau kecelakaan lalu lintas.

    Kedatangan massa di setiap musibah bencana tentu saja hal yang tidak diinginkan. Sebab mereka kebanyakan datang hanya untuk melihat-lihat kondisi bencana saja, bahkan terkadang hanya untuk berfoto-foto atau sekedar nampang dengan latar belakang kekacauan setelah suatu musibah. Tentu saja hal tersebut sangat tidak etis, karena di saat tersebut warga yang terkena musibah sedang kesusahan karena ditinggal anggota keluarga atau membutuhkan bantuan akibat kehilangan harta benda.

    Selain itu wisata bencana juga merugikan pihak-pihak yang terkait. Kedatangan massa yang menonton acapkali menyulitkan para petugas atau sukarelawan yang sedang bekerja melakukan evakuasi atau menyalurkan bantuan. Belum lagi pada suatu peristiwa criminal mereka kadang malah menyebabkan kerusakan di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) karena seringkali mereka menerobos garis police line yang sudah dipasang petugas kepolisian.

    Merebaknya wisata bencana di negeri ini akibat masyarakat kita yang terbiasa menyukai hal-hal yang berbau dramatis di samping keingintahuan mereka terhadap suatu peristiwa sebagai akibat dari kejadian tersebut yang di-blow up secara terus menerus oleh media massa. Selain itu paradigma bad news is good news rupanya juga masih terbukti di sini. Dan tidak hanya di Indonesia, di negara-negara maju pun setiap suatu kejadian besar pasti segera menarik perhatian. Seperti ketika terjadi peristiwa 11 September di Amerika Serikat beberapa tahun silam, segera diikuti oleh kenaikan oplah surat kabar yang segera mewartakan kejadian tragis tersebut sebagai head line. Hal itu diikuti juga oleh kenaikan rating acara-acara berita di televisi yang menjadikan kejadian tersebut sebagai sajian utama berita.

    Sebagai akibat dari pencitraan di media massa tersebutlah kemudian yang mendorong masyarakat untuk mendatangi secara langsung lokasi sebuah bencana. Dan mereka ingin menjadi saksi secara langsung terhadap suatu peristiwa besar sehingga seakan mereka telah menjadi bagian dari peristiwa tersebut.

    Hanya saja mungkin kita lupa bahwa pada saat itu mereka, saudara-saudara kita tersebut sedang membutuhkan bantuan dan bukan untuk dijadikan tontonan.

    40 comments:

    Belantara Indonesia said...

    Marilah kembali menjadi manusia utuh yang berpedoman pada iman dan agama. Minimal peduli dgn rasa kasihan, jika tak bisa berbuat lebih. Relawan juga manusia yg patut di hargai selain para korban bencana. Berkat merekalah banyak jiwa terselamatkan, tentu akibat campur tangan Allah Swt.

    catatan kecilku said...

    Wisata bencana sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat kita. Seperti lokasi tempat penggerebekan teroris.. berapa banyak warga yang datang untuk menonton. Lokasi tempat Ryan 'manjagal' mangsa-mangsanya, tak sedikit yang mendatangi...
    Mungkin psikologi sosial bisa memberikan penjelasan lebih memuaskan akan hal ini.

    the others said...

    Sekaranglah saatnya bagi kita yang sedang mendapatkan kemudahan, kelapangan dan kesehatan utk memberikan bantuan kepada mereka2 yang membutuhkan. Karena bukan tak mungkin suatu saat kitalah yang ada dalam posisi mereka...
    Dengan memberikan bantuan kepada mereka, setidaknya kita dapat menunjukkan rasa syukur kita atas nikmat yang masih dapat kita rasakan hingga saat ini.

    Popi said...

    kabarnya wilayah Lumpur Lapindo malah diwacanakan o/ presiden sbg daerah wisata! :D

    attayaya mobil keluarga said...

    aku ga setuju tempat bencana dijadiin wisata
    seperti lumpur lapindo itu

    Muhammad A Vip said...

    wisata bencana, menarik istilahnya. saya jadi ingat sebuah foto yang mendapat penghargaan jurnalistik beberapa tahun lalu, berlatar rumah yang hancur dan korbannya di Lebanon, sebuah sedan mewah dengan penumpang muda-mudi berlagak di sana. tak cuma di Indonesia, jadi ini manusiawi. memang kalo tak pernah merasakan sulit untuk memahami.

    Ella said...

    wah..bener juga ulasan diatas, mungkin dari rasa keingintahuan manusia, tapi tetap saja, sebaiknya suatu peristiwa bencana jangan hanya jadi tontonan saja atau malah jadi ajang berita dari media-media yang kian menjamur tapi juga harus diikuti dengan action untuk membantu mereka.

    ReBorn said...

    iya, tidak seharusnya lokasi bencana dijadikan tempat wisata, sementara saudara kita masih banyak yang membutuhkan bantuan.

    ummurizka said...

    sungguh tdk etis jk menjadikan tempat bencana menjadi tempat wisata..seharusnya ikut prihatin dengan memberikan bantuan nyata kepada mereka yg terkena musibah bukannya malah jadi tontonan.

    Teras Info said...

    hmm...itu semua memang sudah menjadi kebiasaan Mas.....

    Coretan Hidup said...

    Sungguh disayangkan. Seharusnya masyarakat kita harus lebih peka lagi terhadap penderitaan sesama.

    Denuzz BURUNG HANNTU said...

    ehm ... ada ya yg ginian orang ...
    ck ck ck ... kelewatan deh ...
    semoga kita gak termasuk glongan 'relawan gelap' ini

    Salam BURUNG HANTU

    Cerita Dewasa said...

    Semoga bencana yang melanda Indonesia akan dapat dengan segera berakhir

    Hantu Facebook said...

    mungkin kepekaan sosialnya yg kurang,,,orang kena musibah kok dijadiin arena wisata,,,huh,,,,inilah Indonesia,,

    juliet said...

    dulu para korban gempa klaten sampai menulis di spanduk 'kami bukan tontonan'...

    Nyayu Amibae said...

    hmmmm...potret kehidupan masa kini... sekarang yuuk kita coba balik... klo ada teman yg jatuh terpelet, dibantu dahulu... terus ditertawakan ga ya?????

    TuSuda said...

    teganya ada juga yang seperti itu ya Mas..
    itu namanya "senang lihat orang susah"
    bagaimana seandainya mereka mengalami sendiri kejadiannya, apakah mereka rela mau ditonton?

    Putu Sudayasa said...

    tega2nya, apakah masih kurang juga tontonan yang sudah ditayangkan live lewat televisi ya.. ?

    Corat - Coret [Ria Nugroho] said...

    bener2 sebel tuh aku
    waktu banjir 2007 lalu orang lg kesusahan kena banjir malah jadi tontonan ckckckck

    syamsul rijal said...

    maunya membantu ko' hanya datang melihat - lihat saja, wah hancur negara kalo masyarakatnya semua seperti itu.....

    Masbro said...

    Beberapa kali merapat di lokasi bencana juga seperti itu Mas. Sampai2 waktu ada gempa Jogja dulu, ada beberapa gang di daerah Bantul yang memasang tulisan di sebuah papan, "kami bukan tontonan"
    Kalau yg lewat tim suplay masih bisa menunggu. yang kasihan jika ada tim evakuasi korban hidup yg terjebak di antara massa.

    Tukang Gosip said...

    memang menyedihkan, dan memang begitu deh bangsa kita...
    kapan ya bisa berubah.......

    Bintang said...

    Sampai sekarang Lapindo masih menjadi 'wisata bencana'...mudah-mudahan banyak yang baca posting ini sehingga daerah bencana bukan malah dijadikan 'obyek wisata'...

    Fir'aun NgebLoG said...

    kedatangan para wisatawan bencana diharapkan membawa sumbangan buat para korban tsb. klo seandainya cuma nonton doank, mendingan ga usah datang, cuma tambah ngerepotin aparat aja :D

    aldy said...

    Ya, orang kita suka menyaksikan penderitaan orang lain :(

    Tip Trik Blogger said...

    itu sebenarnya bukan wisata hanya ingin menyaksikan lebih dekat
    setiap orang pasti berbeda

    tunsa said...

    wisata bencana...mari kita berdoa untuk mereka..
    salam kenal

    Tip Trik Blogger said...

    salam sahabat
    kunjungan siang met istrirahat aja

    ok said...

    contoh lainnya ketika ada yg kecelakaan lalin, yg pertama dilakukan org2 adalah mengerubungi korban yg terluka lalu bertanya sana sini apa yg terjadi bukannya menelepon ambulan/mengantar korban ke RS/menelepon polisi... :(
    jujur aku sendiri ga suka melihat berita yg terus menerus menontonkan kepanikan merapi tanpa berbuat apa2 seperti sedang menyaksikan proses kematian seseorang naudzubillah minzalik

    cucuharis said...

    Menyedihkan ya
    Awalnya karena penaaran tapi akhirnya kadang menyakitkan buat para korban

    Junaedi said...

    Wah artikelnya unik2 juga & maukah menjadi follower di blog saya

    Abdul Malyk said...

    yupz,
    mari kita bantu mereka,,
    bukan untuk menontonnya,,

    Febriyanto(フェブリヤント) said...

    batas antara good news & bad news itu kayaknya ga ada...... sering hal2 yang bad itu malah jadi hal yg lebih menarik drpd yg good....... alhamdulillah saya bukan tipe orang yang suka melihat bencana...... terkana bencana itu gak enak, rumah saya kehujanan abu vulkanik saja sudah gak enak, apalagi tertimpa awan panas, batu, kerikil, dll di dekat merapi sana.....

    tomo said...

    bencana dimana-mana.
    hati ini merasa kasihan melihat mereka yang mengalami bencana ini

    lanover said...

    kita harus tetap waspada n siaga, n selalu mendekatkan diri pada yang kuasa

    sedjatee said...

    keprihatinan yang sama
    sejak bencana tsunami aceh dulu,
    setiap bencana selalu jadi tempat wisata
    sungguh mengenaskan, menonton derita saudara
    semoga tak lagi terjadi di negeri ini
    salam sukses..

    sedj

    bayuputra said...

    Semoga musibah ini bisa cepat berlalu .. sumbangan daya dan doa ... sangat di perluka oleh saudara-saudara kita ...

    Botzzz said...

    nice post sobat.......

    salam knl ya......

    jika berkenan silahkan mampir balik.....

    ImamS said...

    itulah yang menjadi PR kita bersama untuk lebih mengingat Sang Pencipta.

    Jangankan bencana yang ada nun jauh di sana, terkadang yang ada di sekitar pun dianggap hal biasa seiring kesibukan manusia pada perkara dunia.

    Vulkanis said...

    Saya setuju sodara kita sebagai yang harus diberikan bantuan bukan tontonan..

    Post a Comment

    Pembaca dapat memberikan komentar yang terkait dengan artikel yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan penulis blog dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator. Komentar yang berisi promosi atau tautan yang mengarah ke situs pornografi, perjudian atau pelanggaran lain akan dihapus.

     
    Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
    Powered by : Blogger