Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Tradisi Pernikahan Unik di Berbagai Negara

Semua orang mungkin hanya bercita-cita untuk menikah sekali saja dalam hidup. Dan untuk merayakan moment special tersebut biasanya lantas diadakan perayaan yang meriah. Namun di setiap negara di dunia memiliki tradisi unik yang berbeda-beda, bahkan di negara maju sekalipun.

Bagi wanita Skotlandia, pernikahan harus dijalani dengan melewati tradisi penyiksaan terlebih dahulu. Tidak seperti pengantin di negara lain yang biasanya serba wangi dan cantik, di negara tersebut pengantin wanita akan disirami dengan susu basi, ikan busuk, sisa oli dan macam-macam cairan busuk lainnya. Konon tradisi yang tetap bertahan di jaman modern sekarang tersebut mempunyai satu tujuan, yakni untuk menyiapkan mental sang pengantin agar siap menghadapi hidup setelah perkawinan yang sulit dan penuh dengan cobaan dan ujian. 
Read More...

Permainan Tradisional Menuju Kepunahan

Teringat saya pada suatu malam di masa kecil. Pada malam bulan purnama itu, kami, anak-anak kecil berkumpul di sebuah lapangan kecil. Tanah lapang berpenerangan bulan. Riuh rendah bermaian gobak sodor. Orang-orang dewasa menonton dan ngobrol. Dan sesekali melerai jika kami bertengkar karena berselisih tentang sesuatu, sebelum kemudian berdamai kembali.

Dan kini, bepuluh tahun kemudian setelah saya menjadi orang-orang dewasa itu, ternyata tak lagi saya jumpai lagi anak-anak memainkan permainan masa kecil kami. Entahlah, apakah karena kami, orang-orang dewasa, yang lalai mewariskan pada anak-anak, atau mereka, anak-anak itu yang tidak lagi menganggap permainan tersebut cukup menarik.

Sebab kini, anak-anak tersebut, telah mempunyai mainan baru. Maraknya permainan modern, video game, atau berbagai game berbasis computer rupanya telah membuat anak-anak kita beralih dari permainan tradisional. Belum lagi sekarang game-game tersebut telah semakin dekat ke dalam genggaman dan semakin terjangkau, lewat ragam permainan di layar hp.

Permainan tradisional sesungguhnya sama tuanya dengan usia kebudayaan kita. Mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan tersebut. Indonesia yang sangat kaya dengan berbagai budaya peninggalan leluhur sangat kaya dengan ragam permainan tradisional.

Beberapa tradisional umunya dimainkan oleh sekelompok anak-anak seperti gobak sodor, kasti atau petak umpet. Ada juga yang cukup dimainkan oleh sepasang anak seperti congklak (beberapa daerah menyebut sebagai dakon), macanan, dam-daman. Betapa sayangnya jika ragam permainan tradisional tersebut kini mulai jarang terlihat. Karena sesungguhnya pada permainan tersebut terdapat nilai-nilai positif yang bermanfaat untuk perkembangan mental anak.

Permainan tradisional mengajarkan anak untuk berkreasi. Pada beberapa macam permainan dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung, sehingga anak didorong untuk kreatif menciptakan alat-alat permainan tersebut seperti egrang dari bambu, mobil-mobilan dari kulit jeruk. Permainan tradisional juga mengajarkan nilai-nilai kerja sama sportifitas, kejujuran dan kreatifitas. Permainan yang dilakukan secara berkelompok mengajarkan anak-anak untuk bersosialisasi dan menjalin kerja sama di antara teman.

Sementara game-game modern tidak mengajarkan hal-hal tersebut. Permainan modern berbasis computer membuat anak cenderung asocial karena memang cukup dimainkan seorang diri di depan computer. Belum lagi beberapa permainan yang terkadang mengandung muatan negative, seperti unsur-unsur kekerasan dan sadisme juga pornografi. Dari segi kesehatan, disinyalir duduk berjam-jam di depan computer juga dipercaya mampu menyebankan obesitas pada anak.

Namun magnet yang kuat dari game modern tersebut cukup kuat untuk membuat anak kecanduan pada produk impor tersebut. Maka kemudian saya cukup khawatir, jangan-jangan di kemudian hari permainan tradisional tersebut hilang ditelan jaman.
Read More...

Tedhak Siten, Saat Buah Hati Turun ke Bumi


Tradisi tedhak siten merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Jawa yang telah turun temurun sejak jaman dahulu. Meski sekarang sudah memasuki jaman modern dan globalisasi, namun keberadaannya masih tetap mendapatkan tempat di masyarakat.

Tedhak siten berasal dari kata ‘tedhak’ yang berarti dekat atau turun, serta ‘siten’ yang berarti tanah. Pada beberapa daerah tradisi dikenal sebagai mudun lemah, atau juga turun tanah. Jadi upacara adat ini adalah pertanda saat buah hati kita pertama kali menginjakkan kaki ke bumi.

Tradisi tedhak siten dilaksanakan pada saat bayi berusia tujuh ‘lapan’ (selapan = 35 hari) atau 8 bulan. Pada saat upacara ini, sang anak akan didandani mengenakan beskap, kain dan belangkon untuk anak lelaki. Sementara pada anak perempuan mengenakan kebaya, juga riasan wajah.

Kemudian disiapkan sesaji berupa nasi tumpeng, sayur mayor, bubur, aneka macam jajanan pasar juga ketan tujuh warna. Selain itu disiapkan juga perlengkapan berupa sangkar ayam, padi, kapas, tiga macam bunga, beras juga lembaran uang. Pada saat upacara tedhak siten anak pasangan Adjie Massaid dan Angelina Sondakh malah berupa lembaran uang dollar.

Pada saat upacara berlangsung, anak akan dibimbing oleh orang tua untuk menginjak ke tujuh ketan. Ragam warna ketan ini melambangkan unsur-unsur kehidupan di dunia. Setelah itu, kaki si anak akan dipijakkan ke tanah sebagai perlambang pertama kalinya anak turun ke bumi.

Juga si anak kemudian dimasukkan ke dalam sangkar ayam. Ini merupakan perlambang bahwa si anak suatu saat akan masuk ke dalam masyarakat luas sehingga harus mematuhi segala macam peraturan, norma maupun adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Sementara ayam merupakan hewan yang gampang mandiri dan bisa mencari makan di mana saja. Diharapkan si kecil nantinya akan memiliki sifat-sifat mandiri setelah dewasa kelak.

Di dalam kurungan telah disediakan berbagai macam perlengkapan seperti padi, gelang, cincin, mainan, alat tulis, uang dan lain-lain. Benda-benda tersebut diharapkan akan menjadi perlambang setelah dewasa kelak.

Setelah itu kemudian upacara akan diakhiri dengan memandikan anak menggunakan air kembang setaman (gambar dari yogyakartaonline.com)
Read More...
 
Copyright (c) 2010 Blogger templates by Bloggermint
Powered by : Blogger